Transrationalsci

Pengetahuan Rational, Pemahaman Transrational

Transrationalsci

Pengetahuan Rational, Pemahaman Transrational

PART 2.1: MENGUNGKAP MISTERI TENTANG RUH: Hasil Penelitian Dan Pembahasan Surah Al-Isra’ 85.

Sejak dahulu kala, manusia selalu diliputi rasa ingin tahu tentang hakikat ruh. Apa sebenarnya ruh itu? Dari mana asalnya, bagaimana ia bekerja, dan ke mana ia pergi setelah kematian? Pertanyaan-pertanyaan ini melintasi batas ilmu pengetahuan, filsafat, dan agama. Namun, justru ketika manusia mencoba menguak rahasia terdalam tentang ruh, kita berhadapan dengan keterbatasan akal dan sains.

Allah menjawab dalam Surah Al-Isra’ ayat 85:
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”

Ayat ini menegaskan bahwa ruh bukan sekadar objek kajian empiris, melainkan bagian dari wilayah ghaib yang tetap menjadi misteri Ilahi. Meski demikian, perkembangan ilmu pengetahuan modern—mulai dari neurosains, psikologi kesadaran, hingga kajian metafisika—telah berusaha memberikan pendekatan baru dalam memahami fenomena yang berkaitan dengan ruh, kesadaran, dan identitas manusia.

Maka, pembahasan ini berupaya menjembatani antara sains dan wahyu: melihat ruh dari perspektif penelitian modern sekaligus merenungi makna petunjuk Al-Qur’an, agar lahir pemahaman yang lebih utuh tentang keberadaan kita sebagai makhluk yang tidak hanya jasmani, tetapi juga ruhani.

APA YANG TERJADI SEBELUM BIG BANG? Pembahasan Surah Al-Anbiya 30

Pertanyaan besar tentang apa yang terjadi sebelum Big Bang selalu menjadi bahan diskusi panjang antara ilmuwan dan filsuf. Sains modern menjelaskan bahwa alam semesta bermula dari satu titik energi yang sangat padat, kemudian mengembang hingga membentuk ruang, waktu, dan materi yang kita kenal sekarang. Namun, jauh sebelum teori itu lahir, Al-Qur’an telah memberi isyarat mengenai asal-usul jagat raya.

Allah berfirman dalam Surah Al-Anbiya ayat 30:
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”

Ayat ini membuka cakrawala bahwa semesta pernah berada dalam keadaan satu kesatuan (ratqan) sebelum kemudian dipisahkan (fataqnaahuma). Dengan bahasa wahyu yang padat dan penuh makna, ayat ini seakan memberi petunjuk awal tentang peristiwa kosmik yang oleh sains modern disebut sebagai Big Bang. Pertanyaannya: apa sebenarnya yang dimaksud dengan “satu kesatuan” itu, dan bagaimana Islam memandang kondisi sebelum ledakan besar?

BERJIWA AL-QUR’AN: PEMAAF

Berjiwa Pemaaf: Kisah Yahudi Buta dan Rasulullah

Dalam suatu kisah, di sudut pasar Madinah Al-Munawarah duduk seorang pengemis Yahudi buta. Hari demi hari, apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berteriak : “Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”. Setiap pagi Rasullah SAW mendatangi Yahudi buta ini dengan membawa makanan. Tanpa sepatah katapun Rasulullah SAW saat menyuapi makanan yang dibawanya pada pengemis itu, walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah tetap melakukannya hingga menjelang beliau wafat. Setelah Rasulullah wafat, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari setelah Rasulullah Muhammad wafat, Abu Bakar r.a berkunjung ke rumah Aisyah r.a. Beliau bertanya kepada Aisyah r.a., “Anakku, adakah sunnah kekasihku Muhammad yang belum aku kerjakan”. Aisyah r.a menjawab pertanyaan ayahnya: “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satupun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”. Apakah itu?”, tanya Abu Bakar r.a. “Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawa makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada disana”. kata Aisyah.

Keesokan harinya Abu Bakar r.a pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abu Bakar mendatangi pengemis itu, dan memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abu Bakar mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “siapakah kamu?”. Abu Bakar r.a menjawab, “aku orang yang biasa”. “Bukan!, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta. Apabila ia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku”, pengemis itu melanjutkan perkataannya.


Abu Bakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu: “aku memang bukan orang yang biasa datang padamu, aku adalah salah seorang sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW”. Pengemis tua itu terkejut, setelah mendengar cerita Abu Bakar, dan dia pun menangis tersedu-sedu, dan sambil mengusap mata, kemudian berkata: “benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia….Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abu Bakar r.a.

Lanjutkan membaca “BERJIWA AL-QUR’AN: PEMAAF”

Berjiwa Al-Qur’an

Jiwa Al-Qur’an: Sebagai Pedoman hidup.

Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menjelaskan agar kita
memurnikan ketaatan kepada Allah dan hanya menyembah
Allah SWT. Hendaknya kita menjadikan Al-Qur’an sebagai
pedoman hidup. Apa yang dimaksudkan bahwa Al-Qur’an
sebagai pedoman? Pedoman itu ialah acuan, pegangan, landasan
untuk cara pandang berpikir, berkata atau berbahasa, bersikap,
berperilaku, bermimik dan bertindak atau melakukan sesuatu
berlandaskan hukum Al-Qur’an. Semua aktivitas kita tidak
boleh bertentangan dengan Al-Quran.

Mari kita mengambil suatu contoh agar kita dapat memahami
Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Misalnya kita dijanjikan
untuk mendapatkan uang dari seseorang, tetapi tiba-tiba orang
itu meninggal dunia. Padahal kita sudah membayangkan dari
uang yang akan diperoleh itu kita akan membayar hutang pada
tetangga, atau membayar cicilan rumah, menutupi uang sekolah
anak atau kita sudah bermaksud untuk membiayai pernikahan.
Kita menyesal tiada henti-hentinya dan berputus asa. Mungkin
seorang teman kita menasehati dengan ayat berikut:

Lanjutkan membaca “Berjiwa Al-Qur’an”
Kembali ke Atas