Jiwa Al-Qur’an: Sebagai Pedoman hidup.

Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menjelaskan agar kita
memurnikan ketaatan kepada Allah dan hanya menyembah
Allah SWT. Hendaknya kita menjadikan Al-Qur’an sebagai
pedoman hidup. Apa yang dimaksudkan bahwa Al-Qur’an
sebagai pedoman? Pedoman itu ialah acuan, pegangan, landasan
untuk cara pandang berpikir, berkata atau berbahasa, bersikap,
berperilaku, bermimik dan bertindak atau melakukan sesuatu
berlandaskan hukum Al-Qur’an. Semua aktivitas kita tidak
boleh bertentangan dengan Al-Quran.
Mari kita mengambil suatu contoh agar kita dapat memahami
Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Misalnya kita dijanjikan
untuk mendapatkan uang dari seseorang, tetapi tiba-tiba orang
itu meninggal dunia. Padahal kita sudah membayangkan dari
uang yang akan diperoleh itu kita akan membayar hutang pada
tetangga, atau membayar cicilan rumah, menutupi uang sekolah
anak atau kita sudah bermaksud untuk membiayai pernikahan.
Kita menyesal tiada henti-hentinya dan berputus asa. Mungkin
seorang teman kita menasehati dengan ayat berikut:
Al-Hadid (57):22-23
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi
dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah
tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami
menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu
adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian
itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa
yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu
gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.
Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi
membanggakan diri.”
Kita mungkin tersadar setelah membaca surah itu, bahwa
sebelum kita lahir atau jauh sebelum bumi ada, atau lebih jauh
lagi sebelum alam semesta ini diciptakan, maka Allah telah
membuat blue-print apapun yang akan terjadi pada diri kita dan
semua orang di muka bumi ini, termasuk gagal mendapatkan
uang – Allah yang mengaturnya, dan yang demikian merupakan
ujian bagi diri kita. Hal inilah yang kami maksudkan Al-Quran
sebagai pedoman. Ayat tersebut bermakna dan bermanfaat bagi
kita, agar tidak sampai menyesali diri di kemudian hari yang bisa
jadi akan mengikis kepercayaan pada Allah. Jika saja orang mau
memahami surah Al-Hadid ayat 22-23, maka keningnya tidak
sempit, tetapi selalu lapang dada menerima keadaan, dan semua
menjadi mudah baginya untuk melihat dan mengatur kehidupan
dunianya sesuai ayat-ayat Al-Quran.
Mungkin kita masih menyimpan rasa sesal dan putus asa,
sehingga tidak mau lagi berusaha dan enggan menanggulangi
masalah yang ada. Untuk itu, cobalah akal dan hati dihadapkan
pada Al-Quran, antara lain memikirkan ayat berikut ini.
“Mereka menjawab: ‘Kami menyampaikan kabar gembira
kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk
orang-orang yang berputus asa’. Ibrahim berkata: ‘Tidak
ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya,
kecuali orang-orang yang sesat’.” AL-Hijr (15) : 55-56
Hal yang paling pokok dari uraian ini adalah kita harus selalu
menjaga pikiran, perilaku, nada, bahasa, mimik dan aktivitasnya
dari kemungkinan menjurus pada musyrik. Dengan demikian
kita memahami apa yang dimaksud dengan Al-Qur’an sebagai
pedoman hidup yang berguna untuk menjalani kehidupan kita
sehari-hari. Jika dalam jiwanya terpatri ayat-ayat Al-Qur’an, dan
berpikir, berkata dan berbuat juga didasarkan pada Al-Quran,
kita mulai melangkah menuju jiwa Al-Qur’an yang hakiki.
Sebagaimana dimaksudkan pada surah Al-Ankabut (29): 49;
“Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam
dada orang-orang yang diberi ilmu.Dan tidak ada yang mengingkari
ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim”.
