
Dalam pemahaman umum, “Iman” sering kali diterjemahkan secara sederhana sebagai “percaya”. Namun, jika kita menelusuri makna Al-Qur’an lebih dalam, kata “percaya” (believe) adalah tingkatan yang paling lemah karena bisa didasari tanpa bukti.
Al-Qur’an tidak sekadar menuntut kita percaya, melainkan menuntut keyakinan yang ilmiah dan terbukti (convince), meningkat menjadi Ainul Yaqin (melihat dengan mata hati), hingga mencapai Haqqul Yaqin (kebenaran mutlak yang tak tergoyahkan).
Menurut Oxford Dictionary kata believe (percaya) adalah menerima suatu hal sebagai hal yang benar, tanpa adanya bukti. Berarti sesuatu diterima bersifat dogmatis, percaya tanpa bukti, tidak didasarkan atas ilmu pengetahuan agama (al-Qur’an). Dengan demikian, berbicara iman dalam konteks percaya, tidak ada di dalam Al-Qur’an.
Adapun kata meyakini (convince) adalah tidak bersifat dogma, tetapi didasarkan atas ilmu pengetahuan agama (Al-Qur’an, hadis Qudsi dan hadis Rasulullah). Input, proses dan outputnya adalah kebenaran yang haq, dan diyakini karena bukti-bukti dan tanda-tandanya dapat diungkapkan dengan ilmiah. Dan ilmu Allah itu ilmiah, yang dapat dibuktikan secara kausalitas, sistematis, dan matematis. Kausalitas ialah hukum sebab akibat. Di dalam Al-Quran disebut sunnatullah (hukum-hukum Allah, sistem dan proses yang ilmiah). Kata dasar iman ada pada tahap convince (yakin, meyakini).
Sedangkan kata trust (‘ainul yaqin) ialah meyakini petunjuk Allah, atau meyakini petunjuk seorang (Nabi, Rasul dan ulama) atas suatu kebenaran. Kebenarannya jelas, kemampuan dan keandalannya teruji (valid). Trust adalah sesuatu yang bersifat tersembunyi, halus, dapat dirasakan, diterima akal dan unseen (intangible). Trust sangat mahal nilainya karena begitu terjadi situasi yang menyebabkan kepercayaan itu sirna, untuk memulihkannya bisa memerlukan waktu yang lama. Lebih lanjut trust akan meningkat menjadi confidence (keyakinan yang kuat dan tidak dapat digoyahkan), sifat confidence adalah jujur, taat dan patuh. Kita semua memerlukan confidence, keyakinan yang sangat kuat dan tidak dapat digoyahkan. Dalam setiap proses apapun, rasa confidence harus selalu menyertai kita.
Confidence diperoleh dari ilmu pengetahuan dan pengalaman bertahun-tahun, yaitu dengan membaca Al-Qur’an, mengaplikasikan atau mempraktekkan, mengamati tanda-tanda kebesaran Allah dan membuktikan kebenarannya, sebagaimana dijelaskan pada surah Ali-Imran ayat 190-191. Sehingga kita menjadi haqqul yaqin. Jadi, confidence adalah sarana menuju haqqul yaqin. Itulah iman yang sebenar-benarnya, mereka pewaris surga yang tidak ada keraguan dan tidak dapat digoyahkan oleh pengaruh duniawi (jiwa mukhlis).
Kita mengaku percaya kepada Allah, tetapi apakah kita sudah sampai kepada ‘ainul yaqin’ dan lebih jauh lagi pada haqqul yaqin. Keyakinan yang sebenar-benarnya? Jika kita berbicara mengenai ‘ainul yaqin dan haqqul yaqin, maka pemahaman iman tidak hanya sekedar percaya. Orang yang beragama selain Islam, juga mengaku beriman. Padahal hakikat iman perlu lebih dipahami. Bagaimana iman dan hakikat iman dapat dipahami secara lebih dalam (tadabur)? Sementara iman itu tidak diketahui secara hakiki.
Iman yang benar disertai dengan ilmu, tidak hanya sekedar percaya dan yakin saja. Surah berikut ini menjelaskan bahwa iman itu benar-benar tersembunyi:
Asy-Syura (42):52
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al-Qur’an) itu dan tidak pula (kamu) mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
Adapun yang kami maksudkan tentang iman menurut pandangan Allah, dapat dilihat pada surah berikut ini:
Al-Hujurat (49):14
“Orang-orang Arab Badwi itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “kamu belum beriman, tetapi katakanlah: “kami telah tunduk”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Surah Al-Hujurat 14 menjelaskan pada kita, bahwa iman itu bukanlah semudah pendapat kita, walaupun kita mengaku-ngaku beriman. Tetapi iman itu berasal dari Allah, hak prerogatif Allah, yang dimasukkan ke dalam hati (rohani) manusia. Hati yang dimaksud bukanlah hati organ jasmani, karena itu walaupun hati manusia kita belah, kita tidak akan menemukan iman di sana.
Posisi Iman
Berdasarkan ayat di atas, iman harus dimasukkan ke dalam hati. Apabila iman dimasukkan Allah, tentu harus ada wadahnya, sehingga iman itu dapat terpelihara dengan baik. Wadahnya adalah rohani yang bersih, tidak boleh kotor walau sedikitpun. Pada saat jasmani masih hidup, setiap rohani memerlukan penyucian (shibghah). Itulah gunanya telaga Al-Kautsar yang merupakan salah satu surga dari tujuh surga di alam baqa. Sekali lagi, dalam pengertian ini, iman dimasukkan ke dalam hati, dan yang dimaksudkan hati itu ialah rohani, bukan jasmani. Jadi, posisi iman itu ada di dada rohani, bukan di dada jasmani.
Rohani seseorang yang belum beriman, apabila Allah akan memasukkan iman, awalnya harus dibersihkan. Allah menugaskan para malaikat untuk membawa rohaninya ke Telaga Al-Kautsar untuk dibersihkan. Jika iman sudah dimasukkan Allah, selanjutnya jasmani harus berusaha keras memelihara kebersihan akal dan rohani (hati) dengan cara-cara yang telah ditentukan sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an.
Materi Iman
Rumusnya ialah selain dari Allah adalah benda atau ciptaan. Iman adalah ciptaan Allah, sebuah tanda-tanda kekuasaan Allah yang terbaik untuk manusia, dan sarana untuk masuk surga. Untuk menjelaskan tentang iman apakah materi atau tidak, mari kita pelajari surah Al-Hujurat 14 tadi. Menurut ayat ini, orang Arab Badwi itu mengatakan “kami telah beriman”, tetapi disanggah Allah”: “kamu belum beriman, tetapi baru runduk”. Ayat ini menunjukkan, tidak semua orang dapat mengaku beriman walaupun dia telah runduk, melaksanakan shalat, puasa dan dzikir, layaknya orang Badwi yang mengikuti Rasulnya. Kalau begitu, seseorang perlu memeriksa kembali keyakinannya, supaya di belakang hari ketika meninggal dunia, tidak termasuk ke dalam golongan orang yang lalai (muhasabah).
Ayat itu juga mengandung arti, bahwa hanya sedikit orang yang akan selamat sampai ke negeri akhirat. Hal ini disebabkan pada kenyataannya sebagian muslim baru tunduk dan patuh; dan sebagian besarnya hanya menjadikan agama Islam sebagai lambang dan senda gurau saja. Karena itulah Rasulullah menangis terisak-isak sewaktu ia akan wafat sambil berbisik, “umati…, umati…” Maksudnya, Rasulullah SAW benar-benar mengetahui, sebagian besar manusia akan masuk ke dalam neraka. Dan beliau khawatir bila di antaranya adalah umat Islam.
Bilamana Allah menjelaskan pada ayat tadi, kata “dimasukkan”, dan iman itu menurut Rasulullah SAW bercahaya terang benderang walau hanya sebiji zarah, tentu iman tersebut ada bendanya. Berapa besar dimensi sebiji zarah itu?, kata sebiji menunjukkan kata benda. Dimasukkan kemana? Tentu saja ke dalam dada rohani, bukan ke dada jasmani. Karena itu, jasmani tidak pernah tahu apakah iman telah masuk atau belum. Inilah salah satu hakikat dari iman itu sendiri. Apakah kita dapat menerima pendapat itu? Itulah sulitnya menjelaskan kebenaran. Kalau tidak demikian, Allah tidak akan berfirman sebagaimana ayat di bawah ini:
Al-Hajj (22):72
Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami di hadapan mereka. Katakanlah: “Apakah akan aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada itu, yaitu neraka?”. Allah telah mengancamkan orang-orang yang kafir. Dan neraka itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.
dan ayat selanjutnya,
Al-Baqarah (2):8-9
Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.
Benda (tanda) iman, dapat membesar dan mengecil (bukan tebal-tipis), bercahaya terang, dan Allah saja yang dapat memberikan petunjuk tentang membesar dan mengecilnya suatu iman. Membesar dan mengecil iman disebabkan oleh pekerjaan akal jasmani, yang berdampak pada rohani dan amal seseorang. Agar menambah keyakinan kita, perhatikan surah berikut ini:
Al-Baqarah (2):257
Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah Setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
Ayat ini menambah khazanah ilmu tentang iman, yakni iman itu bercahaya. Secara hakikat yang dimaksudkan cahaya iman adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang terdapat pada dada rohani. Mari kita perhatikan lagi Surah di bawah ini:
Al-Ankabut (29):49
“Sebenarnya, Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.”
Dengan ayat diatas jelaslah, iman berada di dada orang-orang yang diberi ilmu. Sekali lagi, makna dada bukan dada jasmani, tetapi dada rohani. Kenapa harus pada dada rohani? Karena rohani memiliki sifat jujur, sabar, santun dan halus, tidak ada keingkaran baginya. Kalau dia salah dia akan mengakui salah, kalau dia benar maka dia mengaku benar. Dan yang menganggap petunjuk (Al-Qur’an) itu salah, meragukan atau tidak memahami ayat-ayat mutasyabihat adalah jasmani, karena jasmani belum memahami hakikat iman. Sekalipun rohani seorang non muslim, rohaninya tetap mengakui keberadaan Allah yang Maha Esa. Hanya saja rohani tidak dapat memberi tahu karena ditutupi oleh dinding-dinding setan. Rohani hanya menyesalkan akal jasmaninya yang tidak memahami, dan tidak mencari kebenaran yang hakiki.
Iman itu dapat dikategorikan materi, ciptaan Allah. Pernyataan ini dapat kita diskusikan. Misalnya dengan pertanyaan; bagaimana mungkin iman itu dapat disebut materi, padahal iman itu gaib, dan iman tidak dapat dilihat oleh siapapun, bukankah iman merupakan pemberian Allah langsung? Atau dengan pertanyaan, bukankah iman sudah ditanamkan langsung pada orang-orang muslim sejak dia dilahirkan di muka bumi? Lebih ekstrimnya, pertanyaan itu mengarah kepada penghukuman bagi yang mengatakan iman itu ialah materi. Bukankah mereka itu mengikuti paham materialisme yang membendakan semua yang ada, termasuk iman?
Sebenarnya iman diberikan langsung oleh Allah. Kita sepakati dulu, bahwa apapun bentuknya yang selain dari Allah adalah materi, hanya Allah saja yang non-materi. Mengapa segala sesuatu selain Allah disebut materi? Karena apapun yang diciptakan atau yang didegradasikan dari Eksistensi dan Substansi Allah bukan lagi disebut Maha, tapi materi dan berwujud. Jasmani manusia tidak dapat melihat wujud iman, karena iman itu ghoib. Tetapi bagi Allah, iman itu tidak ghaib dan orang Makrifatullah seperti Rasulullah Muhammad, tidak melihat iman itu gaib, tapi nyata ada di dada rohaninya. Juga rasulullah melihat dengan nyata dan ada di dada orang-orang yang diberi iman. Apalagi bagi Allah, tidak ada sesuatupun yang ghaib termasuk Diri-Nya Sendiri. Bila Allah memandang Diri-Nya ghaib juga, maka tentulah diperlukan tuhan yang lain untuk melihat Diri-Nya Sendiri. Inilah yang mustahil.
Sekalipun iman berbentuk cahaya, tetapi pada kenyataannya tidak hanya sekedar cahaya belaka, tetapi berbentuk ayat-ayat Al-Qur’an. Malaikat dan rohani yang juga bercahaya (nur) diciptakan dari bahan baku surga, antara lain partikel halus pembentuk materi aurum, intan, hidrogen, ferum dan nitrogen, namun malaikat dan rohani tidak dimaksudkan sebagai bentuk iman. Pada dimensi yang lebih kasar seperti jin, kita juga mengatakan cahaya, namun unsurnya dari api (partikel halus karbon, asam sulfat dan seterusnya). Pada dimensi ruang alamnya, Jin berwujud, memiliki tubuh dan berarti materi. Mereka kawin dan beranak, makan dan minum. Jadi pemahaman materi, harus dilihat secara lebih luas sampai pada dimensi kehalusannya.
Iman menurut pandangan Allah ada wujudnya, ada materinya. Bagi orang-orang yang Ma’rifatullah, wujud iman itu nyata, berada di dada rohani, bukan pada jasmani. Cahayanya bukanlah seperti apa yang dilihat oleh orang-orang makrifat pada umumnya, yang tertipu pandangannya, mereka melihat cahaya pada dimensi ruang alam yang rendah, dan disimpulkan bahwa itu adalah iman.
Cahaya iman berwarna putih berkilauan, tajam dan menyilaukan mata, membias dan meliputi semua tubuh rohani sampai ke unsur kehalusan jasmani. Jin tidak sanggup melihat cahaya iman, walaupun iman itu hanya sebiji zarrah. Bangsa jin mengetahui orang-orang yang beriman, dan yang tidak beriman. Iman tidak hanya sebagai tanda belaka, tetapi iman adalah kekayaan yang tak berhingga, jaminan untuk masuk surga. Iman bukan warisan orang tua, dan tidak dapat dibeli dengan emas sepenuh langit dan bumi. Boleh juga kita mengatakan iman sebagai tiket masuk ke surga.
Bila sudah diketahui ilmunya dan pandai memisahkan yang hak dan yang batil, maka semakin jelas pemahaman iman, dan tidak mencampuradukkan dengan makna yang lain, sebagaimana dimaksud pada ayat:
Al-An’am (6):82
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
Mengacu pada ayat ini, kita bertanya: adakah kezaliman dan kemusyrikan pada jasmani kita? Atau, adakah kita melakukan perbuatan zalim dan musyrik? Apa yang dimaksud dengan zalim dan musyrik? Pertanyaan-pertanyaan ini memudahkan kita untuk melakukan muhasabah atas apa yang telah dilakukan sepanjang hidup. Dalam Al-Qur’an, Allah menjelaskan berbagai hal tentang zalim dan musyrik. Tidak ada orang yang beriman yang zalim. Zalim adalah menistai diri sendiri. Setiap perbuatan zalim yang dilakukan jasmani, yang menerima dampaknya adalah rohani. Perbuatan zalim tidak hanya merugikan manusia, tetapi yang paling utama adalah merusak pikiran jasmani dan kondisi rohani. Misalnya, otak atau pikiran jasmani menolak yang hak, sebaliknya menerima yang batil itu merusak rohani.
Jadi, rohani yang menerima akibat dari perbuatan jasmani. Perbuatan zalim diwujudkan dalam bentuk ucapan, mimik, nada, bahasa, perilaku dan perbuatan. Berbicara kotor, bertindak tidak jujur, berbicara yang tidak bermanfaat, seperti berolok-olok, mengejek orang lain, bergunjing (gosip) atau membuka rahasia orang lain atau dirinya sendiri, menghina, berkeluh kesah, menyesal berkepanjangan, mengumbar hawa nafsu, mengumbar amarah, dengki dan iri hati, riya, bermegah-megahan, menyombongkan diri, bangga diri, senang dipuji, melawan orang tua, tidak menyantuni anak yatim dan fakir miskin, berlaku kasar, tidak memaafkan, dendam, mencintai anak-istri atau suami atau orang tua melebihi kecintaan kepada Allah (At-Taubah 24). Semua itu termasuk perbuatan tak terpuji dan menzalimi diri sendiri, sekaligus menzalimi rohaninya. Demikian pula, perbuatan musyrik terlihat dari ucapan, perilaku dan perbuatan jasmaninya. Semua itu menzalimi rohaninya. membuat rohaninya menderita. Berbagai perbuatan zalim termasuk di dalamnya musyrik menyebabkan Allah murka. Mari kita perhatikan salah satu perbuatan musyrik, sebagaimana firman Allah dalam surah Maryam di bawah ini:
Maryam (19):90
hampir-hampir langit pecah karena ucapan (perkataan) itu dan bumi belah dan gunung-gunung runtuh,
Mengapa Allah sangat murka dengan ucapan mereka? Apa yang mereka ucapkan? tidak lain adalah ucapan kemusyrikan, yaitu mensyarikatkan Allah dengan yang lain. Itulah arti musyrik. Dengan mengatakan Allah memiliki anak, artinya sama dengan mensyarikatkan Allah dengan yang lain, Allah menjadi dua, tiga empat, dan ada yang setara dengan Allah, tidak mengagungkan Allah, atau Allah memiliki “anak”. Pernyataan itu tidak didasarkan atas logika, seperti dimaksudkan pada ayat berikut:
Maryam (19):88-89
Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar”.
dan,
Maryam (19):91
karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak.
Selain musyrik karena menganggap Allah memiliki anak, perbuatan musyrik kepada Allah juga dapat berupa pemikiran dan perbuatan lainnya. Misalnya menyembah Allah tetapi juga menyembah hawa nafsu, meminta pertolongan pada jin, memohon pertolongan (berdo’a) kepada orang-orang yang sudah meninggal dunia yang dianggap ‘suci’ di kuburannya. Ironisnya, yang melakukan perbuatan itu juga mengaku beriman, melakukan shalat, puasa dan dzikir, dan lebih dari itu kadang kala merasa paling benar.
Bukankah yang dilakukan kebanyakan orang saat ini bisa disebut perbuatan musyrik yang tersembunyi? Bukankah mengejar-ngejar harta dunia sehingga lupa dan lalai pada Allah, serta kikir dalam berzakat, dan bersedekah karena kecintaan terhadap harta itu termasuk musyrik? Allah menyebut, mereka menyembah hawa nafsu. Itu artinya mensyarikatkan Allah, dan kelak menempati neraka jahanam. Sekarang kita memahami, masuk surga itu tidaklah mudah.
Dalam Al-Qur’an, Qorun dijadikan sebagai contoh sebagai peringatan bagi manusia, bahwa kecintaan pada harta benda dapat melalaikan dan lupa kepada Allah. Harta tersebut tidak hanya uang, emas, perak, atau intan berlian, tetapi juga anak, istri-istri atau suami, orang tua, binatang peliharaan yang dicintai melebihi cintanya kepada Allah. Artinya benda dan makhluk yang bernyawa termasuk dalam kategori duniawi. Semua harta itu, bila kita tidak mampu memisahkannya dengan urusan akhirat, maka dapat membuat kita lalai dari mengingat Allah. Lantas bagaimana caranya memisahkan urusan dunia dengan akhirat? Islam mengajarkan, bahwa kecintaan terhadap Allah harus selalu diletakkan pada yang paling utama. Berikutnya, kecintaan pada negeri akhirat, kemudian kecintaan kepada ilmu Agama (Al-Qur’an) sebagai pengetahuan yang hak, dan barulah yang terbawah kecintaan kepada sesuatu yang lainnya.
Bolehkah seorang muslim menjadi orang yang kaya, dan bagaimana mengurus urusan duniawi agar tidak lalai? Perlu untuk diketahui, bahwa tidak ada larangan dalam agama Islam untuk mencari harta duniawi, justru dianjurkan untuk menafkahi keluarga dan shodaqoh. Jika sanggup carilah emas sepenuh bumi, tapi syaratnya harus dipenuhi yaitu jangan sampai emas, intan, berlian tersebut dicintai sama atau melebihi cintanya kepada Tuhan.
Apa yang dimaksud “jangan dicintai”? Penjelasan yang mudah. Contohnya, tidak ada penyesalan, keluh kesah dan resah sedikitpun bila emas hilang, intan dicuri orang, rumah terbakar, anak meninggal atau istri atau suami tidak setia. Ini perlu kita simulasinya dalam pikiran kita, agar tidak kaget jika memang hal tersebut atau yang mirip terjadi pada kita. Semua kejadian itu sudah tercatat di Lauh Mahfudz, kita dilarang sedih dan gembira berlebihan. Pertanyaannya, sudahkah kita membuat simulasi terhadap banyak peristiwa, tidak sebatas contoh tersebut? Siap dan sanggupkan jika peristiwa itu terjadi. Bila belum sanggup, itu artinya kita masih sangat kuat mencintai harta, jabatan dan lainnya dengan sepenuh hati, dibandingkan cinta kepada Allah, yang berarti akan jauh dari surga Allah.
Karena itu, yang perlu kita pahami dalam hidup, carilah dunia dengan ilmunya dan cari akhirat dengan ilmunya pula. Untuk mengurangi kecintaan terhadap duniawi bukan berarti dunia harus ditinggalkan. Artinya, kita boleh saja memiliki duniawi, tetapi akal harus dikontrol agar tidak terkecoh. Maksudnya, akal tidak terkecoh adalah pikiran kita tidak bergantung kepada duniawi, tetapi hanya kepada Allah saja. Seperti contoh tadi, tidak bangga diri bila memperoleh harta, jabatan atau lainnya, dan tidak risau bila harta atau yang lainnya hilang.
Jasmani perlu dirawat dan kebutuhannya berada di dunia. Kita tidak perlu menjual mobil, atau menjual rumah, menjual sawah dan ladang, menjual televisi dan sebagainya termasuk menceraikan istri atau tidak mengurusi anak supaya dapat mencintai Allah. Hal ini termasuk kategori menganiaya jasmani dan dilarang dalam Islam. Kita membutuhkan dunia (harta dan sebagainya untuk beramal), tetapi jangan mencintainya berlebihan. Kebutuhan terhadap harta adalah kebutuhan sesaat. Ambillah pelajaran untuk jalan ke negeri akhirat pada harta itu. Misalnya, apakah kita kikir, boros, dan bermegah-megahan dengan harta? Apakah sifat-sifat tersebut bertambah parah atau berkurang? Ini perlu kita evaluasi (muhasabah) secara berkala dan segerakan untuk mengubahnya. Seharusnya, duniawi (harta, pekerjaan, dan sebagainya) kita jadikan sarana untuk membangun akhlak mulia, mengurangi akhlak buruk, dan tentunya mencari ridho dan dekat kepada Allah. Harta dapat menjadi sarana membuang sifat kikir. Adakah kita santun dan rendah hati, adakah kesombongan dan bermegah-megahan menjadi sirna? Bukankah Allah mengatakan bahwa seseorang diuji dengan kekayaan dan kemiskinan seperti yang dimaksud dalam hadis Qudsi berikut ini?
Allah Berfirman:
Sesungguhnya sebagian dari hamba-Ku ada orang yang tidak benar imannya kecuali dengan kekayaan, sekiranya Aku miskinkan dia, dia menjadi durhaka. Sebagian hamba-Ku ada orang yang tidak benar imannya kecuali dengan kemiskinan, tapi bila Aku jadikan kaya dia menjadi durhaka. Sebagian dari hamba-Ku ada orang yang tidak benar imannya kecuali dengan sakit, tetapi bila Aku jadikan sehat, dia menjadi durhaka. Dan sebagian dari hamba-Ku ada orang yang tidak benar imannya kecuali dengan sehat, sekiranya Aku uji dengan sakit, dia menjadi durhaka.
Yang dilarang ialah berlebih-lebihan terhadap urusan duniawi sehingga melampaui batas, misalnya mengharamkan yang tidak diharamkan Allah, hal itu melampaui batas. Hal ini juga dijelaskan dalam Al-Qur’an sebagai berikut:
Al-Maidah (5):87
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Ayat di atas berkaitan dengan perkatan dan perbuatan mengharamkan yang tidak diharamkan Allah. Bagaimana bila kita mengharamkan pula duniawi ini? Jangankan mengharamkan, membenci saja dengan dasar yang tidak jelas dilarang Allah. Karena itu jangan kita sampai membenci duniawi. Jika bumi atau duniawi ini diharamkan Allah, maka Adam tidak diturunkan ke bumi ini.
Surah Al-Maidah ayat 87 lebih tegas lagi yaitu janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan…, Ayat di atas tidak hanya berlaku di waktu rasul ingin mengharamkan madu. Dikisahkan bahwa Allah menegur Nabi karena bersumpah tidak akan meminum madu lagi, hanya karena ingin menyenangkan hati istrinya. Padahal, madu itu ialah minuman halal. “Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang,” (At-Tahrim 1). Tindakan mengharamkan dapat juga berlaku pada kehidupan kita sehari-hari yang mengharamkan sesuatu hal yang tidak diperintahkan Allah. Suatu ketidaksukaan dan kebencian dekat kepada mengharamkan. Jadi yang harus dilakukan adalah tidak mengharamkan dunia atau mencintai dunia melebihi kecintaan terhadap Allah. Misalnya, apabila kita memiliki harta dunia seharusnya tidak muncul sifat sombong, bangga dan senang dipuji. Sebaliknya bila duniawi lepas, maka kita tidak berkeluh kesah, bingung, putus asa dan kafir. Hal ini yang dimaksudkan sebagai zuhud kepada dunia bila ingin selamat sampai ke negeri akhirat (Surga).
Pada uraian-uraian di atas, kita perlu membuat indikator. Yaitu indikator untuk mengetahui sejauh mana kita dekat danmencintai Allah? Indikator itu dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an.
Pertama, batasan tentang gemetarnya akal dan hati bila dibacakan ayat-ayat Allah.
Al-Anfal (8):2
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal,
Bila akal jasmani peka (sensitif), ketika ayat-ayat Al-Qur’an dibacakan akan merasakan dampaknya terhadap jiwa (rohani). Dampaknya ialah terjadi rasa haru, gembira, sedih, senang, dan tentram yang silih berganti pada akal dan hatinya. Dia merasakan masuknya ilmu, rahmat dan petunjuk ke dalam pemahaman akal dan hatinya, dan dia bersyukur yang banyak atas petunjuk itu. Jadi, gemetar itu bukanlah bulu kuduk atau kulitnya yang gemetar, tetapi akal dan hatinya Indikator 1).
Menangis membaca Al-Qur’an dengan perasaan jasmani, bukanlah wujud dari gemetarnya hati (rohani). Sangat tipis kaitan antara hati dengan perasaan jasmani, dan sebaliknya sangat besar kaitan antara hati (rohani) dengan akal. Menggunakan perasaan tanpa ilmu, dampaknya adalah prasangka. Prasangka terdiri dari dua hal yaitu prasangka buruk dan baik. Kedua prasangka ini dilarang dalam Al-Qur’an. Jangankan prasangka buruk, prasangka baik saja tidak diperbolehkan. Prasangka sama dengan dugaan. Sesuatu yang muncul dari sebab prasangka (dugaan) tidak didasarkan atas ilmu. Prasangka bersumber dari perasaan jasmani. Perasaan yang lahir dari jasmani misalnya menangis, sedih dan tidak mendatangkan rahmat padanya.
Sebenarnya manusia dianjurkan untuk menggunakan akal dan berpikir tentang ayat-ayat Al-Qur’an untuk menimbulkan kekaguman, ketundukan dan kerinduan kepada Allah. Adakah seseorang yang membaca kalimah lailahailallah dengan perasaan jasmani akan menjadi jiwa dan perilakunya sesuai pandangan Allah? Jawabannya tidak ada, mustahil. Karena, untuk menjadikan jiwa harus dengan ilmunya. Sedangkan pondasi ilmu terletak pada akal, yakni memikirkan. Kalimah laa ilaaha illallah adalah pengakuan. Sebuah pengakuan tidak dapat dilakukan hanya dengan perasaan saja, tetapi haruslah dengan akal terlebih dahulu. Akal yang mengakui, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhan Yang Menciptakan langit dan bumi dengan segala isinya.
Ahli biologi tentang syaraf otak telah melakukan penelitian tentang perasaan. Dimanakah adanya posisi perasaan, dan apakah perasaan bagian dari otak? Begitu kira-kira pertanyaan penelitian mereka. Jawaban yang ditemukan para ahli ialah, ternyata perasaan bukan ada di dada atau di hati, tetapi ada di otak atau kepala sebelah depan bagian atas, dekat dengan ubun-ubun, bukan pada otak bagian belakang yang merupakan posisi otak kecil. Penelitian ini menjelaskan bahwa apa-apa yang kita pahami selama ini tentang perasaan yang berada di dada, bukanlah yang dimaksudkan sebagai hati sanubari.
Ada pendapat yang menjelaskan bahwa kasih-sayang justru muncul dari perasaan. Pertanyaannya, adakah kasih-sayang dan rasa gemetar bila dibaca Al-Qur’an itu bermula dari akal yang baik, ataukah pikiran jasmani yang buruk yang disebabkan kecintaan yang melebihi kecintaan kepada Allah?.
Sebenarnya bukan demikian awal prosesnya, kita perhatikanlah contoh berikut ini. Anda seorang yang pemarah (emosional), orang mengatakan, hal itu karena anda kurang mendapat kasih sayang dari orang tua, sehingga selalu saja marah dimana anda berada; baik di rumah pada anak, di kantor dan sebagainya. Suatu saat anda mulai berpikir karena diprotes dengan keras oleh anak-anak anda. Mereka mengatakan bahwa anda tidak pernah menyayanginya. Anda tersadar dan berpikir, bahwa anda sudah berumur lebih dari 50 tahun dan sejak dari muda selalu saja menghadapi berbagai persoalan dengan emosi. Ini berarti, anda selalu dipengaruhi hawa nafsu, al-amarah. Jika anda menghadapi persoalan dengan tangis, maka anda mendahului dengan perasaan dan bukan dengan kesadaran. Dengan emosi dan tangis, sama saja, keduanya tidak didasari kesadaran. Seharusnya melakukan apa saja mestinya dengan kesadaran. Kesadaran itu lahir dari berpikir. Setelah anda membaca Al-Qur’an dan merenungkannya, anda takut dan perlahan muncul rasa ingin berubah menjadi lebih baik:
Maryam (19):96
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih-sayang.
dan,
Asy-Syura (42):23
Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal saleh. Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih-sayang dalam kekeluargaan”. Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.
Anda juga melihat ayat yang lain yang juga berkasih-sayang dalam pengertian negatif:
Al-Ankabut (29):25
Dan berkata Ibrahim: “Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih-sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini kemudian di hari kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian (yang lain) dan sebahagian kamu melaknati sebahagian (yang lain); dan tempat kembalimu adalah neraka dan sekali-kali tak ada bagimu para penolongpun).
Apabila surah Maryam 96 dan Asy-Syura 23 menjelaskan kasih sayang itu datangnya dari Allah, maka kasih sayang pada surah Al-Ankabut 25 datangnya dari setan. Anda tahu perbedaannya, itulah ilmu, membedakan yang haq dan yang bathil.
Keesokan hari anda mengubah perilaku, memulai dengan kasih sayang, namun mungkin belum masuk pada rasa gemetar yang sesuai menurut pandangan Allah. Walaupun pada awalnya kaku dan tidak terbiasa, namun anda berpikir untuk terus berkasih sayang dengan cara yang terbaik kepada keluarga anda. Sekarang anda sudah menemukan jalannya.
Bukankah kasih sayang itu lahir dari berpikir anda? Kemudian barulah menjadi rasa berkasih sayang. Seterusnya anda berusaha terus dan terbentuklah rasa kasih sayang itu menjadi jiwa anda secara perlahan. Ada proses, karena diawali dengan kesadaran. Anda tidak lagi menyukai emosi, setiap tindak tanduk dilandasi sifat atau karakter kasih sayang sesuai petunjuk Al-Qur’an. Selanjutnya kasih sayang menjadi kegemaran anda. Semuanya itu diawali dengan kesadaran (berpikir) dan bukan dengan perasaan. Jika kesadaran ini juga mengawali atau melandasi anda dalam bertauhid termasuk dalam melakukan muhasabah, maka ibadah anda menjadi bermakna dan dijiwai.
Kasih sayang yang hakiki adalah sifat, wujudnya adalah pemberian Allah. Jika seseorang diberi iman, pakaian rohani, dan amal yang saleh, semua itu berasal dari Allah. Hal itu merupakan manifestasi dari kasih sayang Allah. Tetapi pemberian itu bukan tidak ada syaratnya. Allah tidak memberikan kepada siapapun, bila tidak memenuhi persyaratan dimaksud. Salah satu persyaratan itu dijelaskan pada hadis qudsi:
Allah Berfirman:
Kalau dalam hati kecil hamba-Ku ada bisikkan bahwa Aku senang ataupun murka, memanglah demikian hal-Ku. Aku selalu mendekatinya, selagi ia ingat kepada-Ku. Demi Allah! Sesungguhnya kegembiraan Aku waktu menerima tobat hamba-Ku, lebih dari pada kegembiraan seseorang yang mendapatkan kembali barangnya yang hilang di padang pasir. Siapa yang mendekat sejengkal kepada-Ku, Aku akan mendekat kepadanya sehasta, kalau ia mendekat sehasta, Aku akan mendekat sedepa. Kalau ia datang menuju-Ku dengan berjalan kaki, akan Aku songsong dia dengan berlari.
Maksud hadis qudsi itu adalah seorang hamba harus terlebih dahulu dengan kesadaran berpikir (bukan dengan perasaan) untuk mendekat kepada Allah. Kemudian Allah menyambutnya. Kesadaran itu harus didasarkan pada Al-Qur’an agar terhindar dari praduga (prasangka) dan perasaan yang muncul dari jasmaniah. Bila seseorang berpikir mempelajari Al-Qur’an dan hadis, kemudian menyadari bahwa apa yang dilakukannya selama ini salah, dia akan datang mohon ampun kepada Allah, maka Allah bersegera mengampuninya. Andai saja seseorang memohon ampun tanpa mengetahui kesalahan yang dilakukannya, sama saja dengan basa-basi, kecuali kesalahan yang tersembunyi yang tak diketahuinya, karena ilmu belum sampai padanya. Inilah yang dimaksud dalam ayat berikut:
Al-Baqarah (2):286
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.
